Rouf 'Azmi Kepeimpinan Transaksional dan Transformasional dalam Manajemen Berbasis Sekolah | Kumpulan Makalah Perkuliahan

Friday, 14 December 2012

Kepeimpinan Transaksional dan Transformasional dalam Manajemen Berbasis Sekolah


Oleh: Bety Yuliani, Dkk
BAB I
PENDAHULUAN

Kepemimpinan adalah sebuah fenomena yang universal. Pemimpin merupakan salah satu elemen terpenting yang tidak akan pernah hilang dari kehidupan sosial manusia. Agar tiap orang dalam organisasi dapat melakukan pekerjaan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan, diperlukan seseorang yang disebut pemimpin. Pemimpin adalah seseorang yang menggerakkan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan mempengaruhi sikap dan tindakan orang lain. 

Salah satu faktor situasional yang berpengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan adalah hubungan antara pemimpin dan pengikut. Interaksi antar pribadi yang berbeda motivasi dan potensi kekuasaan, termasuk didalamnya ketrampilan dalam mencapai tujuan bersama. Interaksi ini memiliki dua bentuk, yaitu: kepemimpinan transaksional dan transformasional.

Kepemimpinan transaksional dan transformasional merupakan suatu hal yang penting dan dibutuhkan dalam organisasi. Kepemimpinan transaksional dibutuhkan untuk memberikan arahan, menjelaskan perilaku yang diharapkan, serta memberikan reward dan punishment. Sementara itu organisasi juga membutuhkan visi dan dorongan yang dibentuk oleh kepemimpinan transformasional. Esensi nyata dari kepemimpinan transformasional adalah bahwa pemimpin ini menyebabkan pengikut melakukan lebih dari yang diharapkan, serta percaya bahwa pemimpin tidak akan mengambil keuntungan dari mereka. Seseorang yang memiliki kepercayaan yang lebih pada orang lain akan berlaku sesuai dengan apa yang seharusnya, sehingga standar kerja yang diharapkan dapat dicapai. Lebih jauh lagi, kedua jenis gaya kepemimpinan tersebut akan diimplementasikan dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam hal ini, Kepala sekolah memegang peranan kunci dalam keberhasilan aplikasi MBS. Bekal kemampuan, keahlian, dan ketrampilan menjadi keniscayaan bagi kepala sekolah untuk mampu menjalankan roda lembaganya secara berbasis MBS. Berkaitan dengan hal tersebut, maka apakah kepemimpinan transformasional dan transaksional berdampak positif bagi kultur manajemen sekolah berbasis MBS, akan dipaparkan secara lebih rinci dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kepemimpinan Transaksional, Transformasional, dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
1. Kepemimpinan Transaksional
Menurut Komariah dan Triatna yang dikutip oleh Abd. Kadim Masaong, kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahan.  Peran kepemimpinan transaksional lebih difokuskan sebagai manajer, karena ia sangat terlibat pada aspek-aspek prosedural manajerial yang metodologis dan fisik. Sistem kerja kepemimpinan transaksional merujuk pada tugas yang diemban dan imbalan yang diterima sesuai dengan derajat pengorbanan dalam pekerjaan, sehingga kepemimpinan ini cocok untuk diterapkan ditengah-tengah staf yang belum matang dan menekankan pada pelaksanaan tugas untuk mendapat insentif bukan pada aktualisasi diri. Pola hubungan laizzes faire atau membiarkan personel menentukan sendiri pekerjaannya tidak dikembangkan dalam kepemimpinan ini, karena keadaan personel perlu pembinaan, sehingga pola ini dapat menyebabkan mereka menjadi malas dan tidak jelas apa yang akan dikerjakan.

Sedangkan menurut Nahavandi yang dikutip oleh Sudarwan Danim, kepemimpinan transaksional didasarkan pada konsep pertukaran antara pemimpin dan pengikutnya. Pemimpin mendorong stafnya bekerja dengan menyediakan sumber daya dan penghargaan sebagai imbalan untuk motivasi, produktivitas, dan pencapaian tugas yang efektif.  Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa pola hubungan yang dikembangkan dalam kepemimpinan transaksional adalah berdasar pada suatu sistem transaksi (timbal balik) yang menguntungkan, yakni pemimpin memahami kebutuhan dasar anggotanya dan pemimpin menemukan penyelesaian atas cara kerja dari para pengikutnya tersebut.

Kepemimpinan transaksional juga dipandang sebagai contingent reinforcement atau dorongan kontingen dalam bentuk reward dan punisment yang disepakati bersama dalam kontrak kerja.  Apabila staf menunjukkan keberhasilan dalam pencapaian sasaran target yang diharapkan, maka mereka mendapatkan imbalan (reward). Namun sebaliknya, apabila staf menunjukkan berbagai kesalahan dan kegagalan, maka dikenakan hukuman (punishment) sesuai yang disepakati. Ekspektasi pemimpin transaksional adalah kinerja dan tujuan yang jelas, demikian juga jalan mencapai tujuan itu dalam rangka memberi imbalan. Pemimpin juga memantau kinerja serta mengambil tindakan jika perlu. 

Jim Collins dan Bass yang dikutip oleh Sudarwan Danim, menggambarkan sosok perilaku kepemimpinan kepala sekolah transaksional seperti berikut ini:

Lanjut Baca: Klik Disini

Ditulis Oleh : Abdur Rouf Hari: 9:46 p.m. Kategori:

Comments
0 Comments

0 comments: