Rouf 'Azmi Lanjut Baca [unsur-unsur] | Kumpulan Makalah Perkuliahan

Sunday, 2 May 2010

Lanjut Baca [unsur-unsur]

Baca Artikel Sebelumnya: Klik Disini

1.      Kata tin
Kata tin antara lain terdapat dalam surat Al-Mu’minun: 12. As-Sajdah: 7, Al-An’am: 2, Al-A’raf: 12, Al-Saffat: 11, Al-Isra: 61, dan Shad: 71. Pada umumnya para mufasir mengartikan kata tin dengan saripati tanah lumpur atau tanah liat. Menurut Ibnu Katsir, Ahmad Mustafa, Jamal dan Magnujah bahwakata tin berarti bahan penciptaan adam dari komponen saripati tanah liat. Menurut Bahaudin bahwa tin dalam QS. Al-Sajadah: 7 adalah tanah atom zat air dan kata lazim pada QS. Al-Saffat: 11 adalah zat besi.
2.      Kata turab
Kata turab antara lain terdapat pada QSAl-Kahf: 37, Al-Hajj: 5, Ali Imran: 59, AL-Rum: 20, dan Fatir: 11. Menurut Nazwar Symasu bahwa semua ayat yang mengandung kata turab, adalah berarti saripati tanah. Muhammad Jawwad membagi asal-usul penciptaan manusia menjadi 2: langsung dari saripati tanah tanpa perantara yakni asal-usul Adam, dan tidak langsung dari tanah seperti menciptakan Bani Adam seperti dari Nutfah (mani) dan darah, yang keduanya berasal dari berbagai macam makanan. Makanan-makanan tersebut berkaitan dengan air dan tanah. Tanah adalah unsur penting dalam penciptaan manusia. Maka turab dan tin pada dasarnya searti yakni esensi materinya berasal dari tanah. Dari tanahlah manusia pertama diciptakan sebagai nenek moyang manusia.


3.      Shalshal seperti fakhkhar yang berasal dari hama’ masnun
Kata shalshal terdapat pada QS. Al-Rahman: 14, Al-Hijr: 26, 28 dan 33. Menurut Fachrur Razy, dimaksud dengan shalshal ialah tanah kering yang bersuara dan belum dimasak. Jika shalshal ini telah di masak, jadilah tembikar (fakhkhar) sebagai komponen penciptaan adam. Sedangkan shalshal yang berasal dari hama’ masnun, menurut Al-Maraghi ialah tanah kering, keras, bersuara, yang dapat diukur warna hitam yang dapat diubah-ubah , yang dituangkan dalam cetakan agar menjadi kering. Seperti barang permata yang dicairkan dan dituangkan dalam cetakan. Dapat disimpulkan bahwa komponen asal penciptaan Adam, ialah persenyawaan dari komponen tin (tanah liat vang berasal dari tanah lumpur yang bersih), turab (saripati tanah), dan shalshal seperti fakhkhar berasal dari hama’ masnun (dari lumpur hitam yang dicetak dan diberi bentuk).
Mengenai reproduksi manusia pasca Adam pada hakekatnya juga berasal dari saripati tanah. Karena setiap yang dikonsumsi manusia berupa sayuran, buah, daging dan sebagainya yang diproduksi secara biologis dalam tubuh manusia sampai menjadi spermatozoa, juga berasal dari saripati tanah. Informasi tentang kejadian manusia setelah Adam antara lain disebutkan dalam QS. Al-Mu’minun: 12-16, Al-Sajadah: 7-9, Al-Hajj: 5, Al-Qiyamah: 37-39, dan Al-Insan: 2. Dari beberapa ayat tersebut dapat dijelaskan tahap-tahap kejadian manusia pasca Adam adalah sebagai berikut:
Pertama, tahap dimana manusia berasal dari saripati tanah. Artinya itu berasal dari sperma laki-laki dan darah, keduanya berasal dari makanan. Kedua, tahap nutfah (sperma) yang bercampur dengan ovum wanita (telur yang sudah masak), masuk ke dalam rahim. Ketiga, tahap alaqah (sesuatu yang tergantung dalam dinding rahim atau segumpal darah) dalam warna kemerah-merahan setelah melalui proses dari nutfah dengan warna keputih-putihan. Keempat, tahap mudgah (segumpal daging). Kelima, tahap menjadi tulang belulang. Menurut Thanthawi bahwa yang dimaksud dengan tulang belulang ialah dari sepotong daging itu Tuhan membedakannya menjadi dua pembentuk daging dan pembentuk tulang belulang. Unsur pembentuk tulang berproses menjadi tulang belulang.demikian juga pembentuk daging, tetap menjadi daging. Proses pembentukan baik daing maupun tulang belulang berasal dari bahan makanan yang sudah dipersiapkan Allah. Keenam, tahap adanya pembalut tulang belulang dengan daging.Menurut Al-Alusy bahwa yang dimaksud dengan “daging pembalut tulang belulang” adalah 2 kemungkinan. Kemungkinan  pertama, pembalut tulang belulang itu berasal dari sepotong daging yang sejak awal berproses dari bersatunya sperma dan ovum dalam rahim. Kemudian sepotong daging itu dibagi menjadi 2; sebagian menjadi tulang belulang dan bagian lainnya tetap mejadi daging yang berfungsi membalut tulang belulang itu. Kemungkinan kedua, pembalut tulang belulang itu adalah berasal dari daging lain (bukan sepotong daging yang berasal dari bersatunya sperma dan ovum) yang diciptakan Allah swt dari darah yang ada dalam rahim untuk membalut tulang belulang. Dengan demikian pada tahap keenam ini calon manusia itu telah dilengkapi tulang belulang, daging, urat, otot dan anggota tubuh lainnya jika sempurna kejadiannya. Ketujuh (tahap terakhir) adalah Allah menjadikannya menjadi makhluk yang baru dengan diberikannya roh. Makhluk baru ini dapat bergerak, bernafas, bertutur, mendengar, dan melihat serta dianugerahkan kepadanya keajaiban-keajaiban baik lahir maupun batin yang tidak terhingga. Pemberitaan Al-qur’an tentang proses kejadian manusia tersebut pada hakekatnya agar manusia memahami dirinya, mengambil pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya, sehingga menjadi manusia taqwa dan beriman.[1]
Ada tiga kata yang digunakan Al-qur’an untuk menunjuk makna manusia  yaitu al-basyar, al-insan dan an-nas. Meskipun ketiga kata tersebut menunjuk pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari uraian berikut:
a.       Kata al-basyar dinyatakan dalam Al-qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat. Secara etimologi al-basyar berarti kulit kepala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjukan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya, dibanding rambut atau bulunya. Pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih didominasi rambut. Al-basyar dapat diartikan mulamasah yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dengan perempuan. Makna etimologis dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan seperti makan, minum, seks, keamanan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Penunjukan kata al-basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
b.      Kata al-insan yang berasal dari kata al-uns dinyatakan dalam al-qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat. Secara etimologi al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak atau pelupa. Kata al-insan digunakan Al-qur’an untuk menunjukan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Kata al-insan juga digunakan Al-qur’an untuk menjelaskan sifat umum, serta sisi kelemahan dan kelebihan manusia. Hal ini terlihat dalam firman Allah seperti: 1) tidak semua yang diinginkan manusia berhasil dengan usahanya, bila Allah tidak menginginkannya (QS. An-Najm: 24-25). 2) gembira bila dapat nikmat, susah bila dapat cobaan (QS. Asy-Syuraa:48). 3) manusia sering bertindak bodoh dan zdalim (Al-Ahzab: 72). 4) manusia sering ragu dalam memutuskan persoalan (QS. Maryam:66-67). 5) manusia bila mendapat suatu kenikmatan materi, sering kali lupa diri dan bersifat kikir (Al-Isra: 100, Al-Ma’arij: 19, dan At-Takatsur:2). 6) manusia adalah makhluk yang lemah (QS.An-Nisa:28), gelisah dan tergesa-gesa (QS. Hud: 9, Al-Anbiyaa’: 11, Al-Isra:37). 7) kewajiban manusia kepada kedua orang tua (QS. Al-Ankabut: 8, Luqman: 14, dan Al-Ahqaf: 15). 8) peringatan Allah agar manusia waspada terhadap bujukan  orang munafik (QS. Qaaf: 16). Pemaknaan al-Insan terlihat bahwa manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki sifat manusiawi bernilai positif dan negatif.
c.       Kata an-nas dinyatakan dalam Al-qur’an sebanyak 240 kali yang tersebar dalam 53 surat. Kata an-nas menunjukan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan, dapat melihat status keimanan atau kekafirannya seperti pada QS. Al-Baqarah:24.[2]
Islam memandang bahwa manusia ialah makhluk termulia dari segenap makhluk dan wujud lain yang ada di jagat raya ini. Betap besar perhatian islam terhadap insan dan martabatnya dibanding dengan makhluk lain, seperti dalam QS. At-tin: 1-8.

B.      ALAM DALAM TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIDKAN ISLAM
Menurut sejarah filsafat, filsafat yang pertama kali muncul adalah filsafat alam. Filsafat ini ialah hasil dari pemikiran orang – orang yunani. di sebuah kota  yang terletak di Asia kecil yang bernama Miletos lahirlah filsafat alam pertama yang dicetuskan oleh Thales menyatakan bahwa asal segala sesuatu adalah air.
Sejalan dengan itu menurut pandangan islam pun mengajarkan untuk mengetahui alam dan seisinya, sebelum memikirkan dan mengetahui penciptanya. Filsafat alam merupakan trilogy  metafisika disamping filsafat manusia dan pengetahuan. Berikut ini akan di sajikan berbagai pandangan mengenai  filsafat pendidikan islam tentang alam.
Menurut al jurjani dalam kitab al ta’rifat   alam secara bahasa adalah berarti segala hal yang menjadi tanda bagi suatu perkara sehingga dapat di kenali sehingga dapat simpulan sesuatu yang maujud atau materi. Adapun secara filosofis “alam” adalah kumpulan jauhar( substansi) yang tersusun dari materi : maddah dan bentuk (shurah) yang ada di langit dan di bumi. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi itulah alam berdasarkan rumusan filsafat.
Al Quran tidak secara husus mengungkapkan alam  semesta dengan tema alam dalam bentuk alam, hanya dalam bentuk jamak alamin sebanyak 73 kali. Tetapi menurut muhamad abduh orang orang arab sepakat  bahwa kata alamin tidak merujuk pada segala sesuatu yang ada seperti alam batu dan tanah akan tatapi  mereka memahami kata alamin untuk merujuk pada setiap mahluk tuhan yang berakal atau mendekati sifat-sifat berakal  seperti alam manusia, hewan da tumbuhan. Dengan ini, sirajudin zar menawarkan bahwa alqur an, untuk merujuk pada kata alam yang universal. Menggunakan kata  “al samawat wal al ardh wama bainahuma” yang didalam alquran disebut sebanyak 20 kali. [3]
An Nahlawi menyimpulkan pandangan islam terhadap alam ini pada enam prinsip:
1.      Seluruh alam adalah mahluk Allah dan diciptakan dengan punya tujuan hidup, penciptaanya atas dasar  kebenaran (al haqq), sama sekali tidak di dorong oleh perbutan main main atau sia sia ( QS  adh duhkan: 38-39 dan al ahqaf ayat 3)
2.      Alam tunduk kepada sunnatullah sesuai ukuran tang telah ditentukanNnya  ( surat Yasin ayat 30 40 dan al hijr ayat  19-21).
3.      Alam ini diciptakan dengan penuh kerteraturan dan atas kekuasaan Allah menjalankanya (surat al Hajj 65 al fatir 41).
4.      Kehidupan manusia tunduk pada sunnah kemasyarakatan. atas dasar ini maka allah mengutus para rasul,menyiksa umat, membinasakan  sebagian mereka mengatur ajal dan mengubah keaadan mereka.( QS: ar rad ayat 10- 11 dan ali Imran 137)
5.      Seluruh alam ini tunduk kepada allah baik pengaturan perintah dan kehendakNya ( Quran surat al baqarah 116 dan al isra ayat 44)
6.      Alam ini merupakan nikmat allah bagi manusia. Salah satu yang membedakan islam dengan yang lain ialah manusia mampu mempergunakan berbagai daya alam sekitarnya. Namun demikian diingatkanya bahwa manusia mampu menundukan alam iti dengan izin allah dan bahwa Allah telah menundukan baginya (QS. Ibrahim: 32 dan QS. Al-Baqarah 29).
Dari berbagai ulasan diatas dapat diringkas mengenai pandangan islam tentang alam pada beberapa prinsip: Pertama, alam ini diciptakan Allah sebagai satusatunyan pencipta seluruh isi kandungan dan pencipta sistemnya (sunatullah). Kedua, Alam ini diciptakan dengan penuh keteraturan dan sifatnya pasti. Ketiga . sifat alam atau (sunatullah) ini adalah tetap tidak pernah berubah. Keempat. Alam ini dengan segala sunnatullah dan sistemya yang diciptakan allah untuk dipelajari secara teliti maupun individu maupun kolektif. Melalui kemampuan yang dimiliki manusia dan rekayasanya dan kemudian digunalkan sesuai aturan yang mengatur. Kelima perjalanan alam ini berdasar pada undang undang kausal (sebab akibat) Keenam. oleh karena alam ini sifatnya pasti dan tidak pernah berubah maka objektif artinya sunatullah ini berlaku sama bagi semua individu dan kelompok tidak peduli  muslim atau non muslil asalkan menjalankan atau tidak menjalankan maka pasti akan terjadi atau tidak terjadi dengan kata lain setiap propesi apapun, baik muslim atau non muslim dapat memperkirakan dengan penuh kapastian setiap fenomena alam yang akan terhjaadi seerta memanfaatkan fenomena itu baik positif atau negatif. Ketujuh, Dalam mempelajari, memanfaatkan mengolah alam ini haruslah dengan ilmu yang benar disertai dengan iman. Kedelapan, hubungan manusia dengan alam adalah hubungan taskhir (pengeloaan dan penggunaan sumber daya alam dengan ilmu dan tanggung jawab serta kemakmuran dan generasi yang akan dating serat pembelajaran) bukan hubungan ekploitasi.[4]

C.       PENGETAHUAN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM
Pengetahuan dapat diartikan ke dalam dua istilah teknis, yaitu science dan knowledge. Istilah yang pertama diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu fisik atau empiris, sedangkan istilah kedua diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan metafisika. Istilah yang pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ilmu pengetahuan, sementara istilah kedua diterjemahkan dengan pengetahuan saja. Dengan kata lain, hanya ilmu yang sifatnya fisik dan empiris saja yang bisa dikategorikan ilmu, sementara sisanya, seperti ilmu agama, tidak bisa dikategorikan ilmu (ilmiah).
Di dunia islam tidak akan ditemukan dalam khazanah pemikiran Islam pergeseran definisi ilmu seperti yang terjadi di dunia Barat. Dari sejak awal sampai sekarang, ilmu dalam Islam mencakup bidang-bidang fisik juga bidang-bidang nonfisik. Istilah yang digunakannya pun sejak awal tidak berubah, yakni ‘ilm. Menurut Wan Mohd Nor Wan Daud, penggunaan istilah ‘ilm itu sendiri, sangat terpengaruh oleh pandangan dunia Islam (Islamic worldview):
Pengetahuan dalam bahasa Arab digambarkan dengan istilah al-’ilm, al-ma’rifah dan al-syu’ûr (kesadaran). Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Tuhan. Julukan-julukan yang dikenakan kepada Tuhan adalah al-’Âlim, al-’Alîm dan al-’Allâm, yang semuanya berarti Maha Mengetahui; tetapi Dia tidak pernah disebut al-’Ârif atau al-Syâ’ir. ilmu dalam Islam mencakup dua pengertian; pertama, sampainya ilmu dari Allah ke dalam jiwa manusia, dan kedua, sampainya jiwa manusia terhadap objek ilmu melalui penelitian dan kajian. Dalam hal ini, mutlak disimak firman Allah swt berikut ini:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-’Alaq [96] : 1-5).”
Secara jelas, ayat di atas menginformasikan bahwa ilmu bisa diperoleh dengan aktivitas iqra`, juga bisa diperoleh dengan anugerah Allah swt langsung kepada manusia.
Ilmu diperoleh oleh manusia dengan berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Menurut Jujun S. Suriasumantri, pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio, disebut dengan paham rasionalisme.  Kedua mendasarkan diri kepada pengalaman, disebut paham empirisme. Pengetahuan jenis pertama disebut logis, dan pengetahuan jenis kedua disebut empiris.
Kerjasama rasionalisme dan empirisme melahirkan metode sains (scientific method), dan dari metode ini lahirlah pengetahuan sains (scientific knowledge) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan. Pengetahuan sains ini adalah jenis pengetahuan yang logis dan memiliki bukti empiris. Jadi tidak hanya logis saja yang menjadi andalan kaum rasionalis, tapi juga harus empiris yang menjadi andalan kaum empiris. Kalau ternyata pengetahuan tersebut hanya bersifat logis, tidak empiris, pengetahuan tersebut akan disebut pengetahuan filsafat, bukan pengetahuan sains/ilmiah. Kerjasama dari rasionalisme-empirisme ini kemudian melahirkan paham positivisme, yakni paham yang menyatakan bahwa segala pengetahuan yang ilmiah harus dan pasti dapat “terukur”. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat diukur dengan timbangan.
Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Menurut Jujun, yang terpenting dibanding rasio dan empiris adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.
Al-Qadi Abu Bakar al-Baqillani, membagi sumber pengetahuan ini ke dalam enam bagian. Lima di antaranya adalah jenis-jenis indera, yaitu hâssat al-bashar (indera melihat), hâssat al-sam’ (indera mendengar), hâssat al-dzauq (indera mengecap), hâssat al-syamm (indera mencium), dan hâssat al-lams (indera merasa dan meraba). Adapun yang keenamnya, al-Baqillani menjelaskan: “Jenis yang keenam adalah sesuatu keharusan yang timbul di dalam jiwa secara langsung tanpa melalui indera-indera yang disebutkan tadi.” Al-Baqillani kemudian menyebutkan contoh-contoh pengetahuan yang diperoleh lewat (1) intuisi, seperti seseorang yang mengenali dirinya sendiri, (2) lewat akal, seperti memahami omongan, dan (3) lewat khabar khususnya yang mutawâtir, seperti tentang kehidupan yang ada di luar negeri. Termasuk tentunya khabar-khabar keagamaan, karena sifatnya yang sama sebagai khabar.[5]Beberapa prinsip-prinsip yang menjadi dasar teori pengetahuan dalam islam, ialah :
1.      Percaya pada pentingnya pengetahuan sebagai salah satu tujuan pokok. Dalam potonngan ayat, surah al-mujadalah
Æìsùötƒ...... ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ ...... ÇÊÊÈ  
.....Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...(QS. Al-Mujadalah : 11)
2.      Percaya bahwa penegtahuan manusia mempunyai beberapa sumber.
3.      Percaya bahwa pengetahuan manusia berbeda mutu dan nilainya sesuai dengan perkara, tujuan dan jalanya.[6]

D.    HUBUNGAN ANTARA MANUSIA, ALAM, PENGETAHUAN DENGAN PENDIDIKAN
Dari uraian di atas telah dijelaskan tentang penciptaan manusia, alam dan pengetahuan. Selanjutnya, penciptaan manusia, alam, pengetahuan akan dikaitkan dengan pendidikan. Ada dua implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan islam, yaitu:
1.      Karena manusia terdiri dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan islam harus dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan qolbiyah dan aqliyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Jika kedua komponen itu terpisah atau dipisahkan dalam proses kependidikan islam, maka manusia akan kehilangan keseimbangannya dan tidak akan pernah menjadi pribadi yang sempurna (al-insan kamil).
2.      Al-qur’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia adalah sebagai khalifah dan ‘abd. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah swt membekali manusia dengan seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan islam harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya baik sebagai khalifah maupun ‘abd.
Kedua hal diatas harus dijadikan acuan dasar dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan masa kini dan masa depan. Fungsionalisasi pendidikan islam dalam mencapai tujuannya sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan umat islam menterjemahkan dan merealisasikan konsep filsafat penciptaan manusia, alam, dan pengetahuan.untuk menjawab itu, maka pendidikan islam dijadikan sarana kondusif bagi transformasi ilmu pengetahuan dan budaya islami dari generasi ke generasi. [7]
Manusia, alam, pengetahuan, dan pendidikan merupakan salah satu siklus kehidupan. Dari zaman dahulu hingga sekarang ke empat komponen tersebut tidak bisa dipisahkan, selalu berkaitan. Meskipun zaman dahulu tidak sama dengan zaman sekarang. Hubungan tersebut dapat dianalogkan, Manusia sebagai pelaku, sedangkan alam sebagai objek yang disediakan Tuhan untuk manusia, pengetahuan sebagai alat dan cara untuk mengelola alam dan hubungan antar manusia, dan hubungan dengan Tuhan melalui pendidikan.
Lingkungan dalam arti luas mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat dan alam dengan kata lain, lingkungan adalah sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan. Ia adalah seluruh yang ada, baik berupa bergerakataupun tidak bergerak. Dengan demikian, lingkungan adalah melingkupi hidup dan kehidupan manusia.
Adapaun lingkungan pendidikan secara sederhana meliputi tempat terjadina pendidikan atau di sebut sebagai lembaga pendidikan dan salah satu factor yang menjadi unsur utama berlangsungnya pendidikan berkesinambungan juga konsisten adalah institusi pendidikan lembaga pendidikan islam. Dari sini Abudin Nata memahami lingkungan pendidikan islam sebagain institusi atau lembaga tempat pendidikan itu berlangsung. Didalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terjadina pendidikan islam dengan baik. Lingkungan pendidikan islam berfungsi sebagai penunjang terjadinya  proses kegiatan belajar mengajar secara aman tertib dan berkelanjutan
Dari beberapa prinsip filsafat pendidikan Islam tentang alam, telah disebutkan bahwa alam semesta merupakan penentu proses keberhasilan pendidikan. Adanya interaksi antara peserta didik dan pendidik juga dengan benda, lingkungan alam sekitartempat mereka hidup merupakan prinsip filsafat pendidikan islam yang perlu diperhatikan. Prinsip ini menekanka bahwa proses pendidikan manusia dan peningkatan mutu akhlaknya bukan sekedar terjadinya dalam lingkungan alam yang bersifat material. Jadi alam semesta merupakan tempat atau wahana yang memungkimkan proses pendidikan berhasil. Semboyan “ Kembali Ke Alam” merupakan salah satu filsafat pendidikan yang menghendaki alam sebagai lingkungan pendidikan.


KESIMPULAN

kejadian manusia setelah Adam antara lain disebutkan dalam QS. Al-Mu’minun: 12-16, Al-Sajadah: 7-9, Al-Hajj: 5, Al-Qiyamah: 37-39, dan Al-Insan: 2. Dari beberapa ayat tersebut dapat dijelaskan tahap-tahap kejadian manusia pasca Adam adalah sebagai berikut:
Pertama, tahap dimana manusia berasal dari saripati tanah. Artinya itu berasal dari sperma laki-laki dan darah, keduanya berasal dari makanan. Kedua, tahap nutfah (sperma) yang bercampur dengan ovum wanita (telur yang sudah masak), masuk ke dalam rahim. Ketiga, tahap alaqah (sesuatu yang tergantung dalam dinding rahim atau segumpal darah) dalam warna kemerah-merahan setelah melalui proses dari nutfah dengan warna keputih-putihan. Keempat, tahap mudgah (segumpal daging). Kelima, tahap menjadi tulang belulang. Keenam, tahap adanya pembalut tulang belulang dengan daging. Ketujuh (tahap terakhir) adalah Allah menjadikannya menjadi makhluk yang baru dengan diberikannya roh. Makhluk baru ini dapat bergerak, bernafas, bertutur, mendengar, dan melihat serta dianugerahkan kepadanya keajaiban-keajaiban baik lahir maupun batin yang tidak terhingga.
Pengetahuan dalam bahasa Arab digambarkan dengan istilah al-’ilm, al-ma’rifah dan al-syu’ûr (kesadaran). Al-Qadi Abu Bakar al-Baqillani, membagi sumber pengetahuan ini ke dalam enam bagian. Lima di antaranya adalah jenis-jenis indera, yaitu hâssat al-bashar (indera melihat), hâssat al-sam’ (indera mendengar), hâssat al-dzauq (indera mengecap), hâssat al-syamm (indera mencium), dan hâssat al-lams (indera merasa dan meraba). Adapun yang keenamnya, al-Baqillani menjelaskan: “Jenis yang keenam adalah sesuatu keharusan yang timbul di dalam jiwa secara langsung tanpa melalui indera-indera yang disebutkan tadi.” Al-Baqillani kemudian menyebutkan contoh-contoh pengetahuan yang diperoleh lewat (1) intuisi, seperti seseorang yang mengenali dirinya sendiri, (2) lewat akal, seperti memahami omongan, dan (3) lewat khabar khususnya yang mutawâtir, seperti tentang kehidupan yang ada di luar negeri. Termasuk tentunya khabar-khabar keagamaan, karena sifatnya yang sama sebagai khabar.
penciptaan manusia, alam, pengetahuan akan dikaitkan dengan pendidikan. Ada dua implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan islam, yaitu:
1.      Karena manusia terdiri dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan islam harus dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan qolbiyah dan aqliyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral.
2.      Al-qur’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia adalah sebagai khalifah dan ‘abd. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah swt membekali manusia dengan seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan islam harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya baik sebagai khalifah maupun ‘abd.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Abdurrahman Saleh. 1990. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-qur’an. Jakarta: Rineka Cipta.
Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Maragustam. 2010. Pembelajar Menjadi Insan Paripurna (Falsafah  Pendidikan Islam). Yogyakarta: Nuha Litera.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.
Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Tobroni. 2008. Pendidikan Islam Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualitas. Malang: UMM Press.
Zuhairini. Filsafat Pendidikan Islam. 1995. Jakarta: Bumi Aksara.



[1] Maragustam, MencetakPembelajar Menjadi Insan Paripurna (Falsafah  Pendidikan Islam), (Yogyakarta: Nuha Litera, 2010),  hal. 59-62.
[2] Samsul Nizar, Filsadat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 1-13.
[3] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), hal. 96-108.
[4] Maragustam, Mencetak Insan Pembelajar Menkadi Insan Paripurna, Falsafah Pendidikan Islam,  hal.  50-52
[6] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 259.

[7] Samsul Nizar, Filsadat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis,  hal. 21-23.

Ditulis Oleh : Abdur Rouf Hari: 1:19 pm Kategori:

Comments
0 Comments

0 comments: